![]() |
| Wajah Masih Imut, Mulutnya Bikin Kaget! Kenapa Bahasa Kasar Jadi Gaul di Kalangan Bocil |
Sobat pengajar dan kalian yang lagi santai, pasti pernah dengar sendiri, lagi nongkrong di tempat umum, eh lewat gerombolan anak sekolah (pakai seragam putih-merah atau putih-biru). Wajah masih imut, polos, tapi begitu mereka ngobrol.. Astaghfirullah, Obrolan bocil sekarang banyak yang pakai bahasa kasar dalam pergaulan sehari-hari, sampai bikin orang dewasa terkejut. Fenomena anak bicara kasar di pergaulan jadi sorotan bukan cuma di lingkungan sekolah, tapi juga di masyarakat luas sebagai fenomena sosial yang menarik dibahas.
Bahasa kasar sendiri bisa mencakup umpatan, kata-kata menghina, hingga jurus “bahasa gaul” yang terdengar normal di telinga bocah. Tapi kok bisa begitu sih? Apa memang ini hanya tren semata, atau ada faktor yang lebih dalam di baliknya? Mari kita telusuri bareng-bareng.
Dari Mana Anak Belajar Bahasanya? Penyebab Utama Bahasa Kasar di Kalangan Anak
1. Peniruan dari Orang Dewasa dan Lingkungan Sekitar
Anak-anak adalah peniru ulung. Apa yang mereka dengar di rumah, dari orang dewasa, atau dari tontonan, akan cepat mereka tiru tanpa sadar. Ini karena anak belajar bahasa melalui observasi dan meniru apa yang sering mereka dengar.
2. Media Sosial dan Game Online
Di era digital, tontonan di platform seperti YouTube, TikTok, atau game online sering kali penuh dengan kata-kata kasar yang tidak tersensor. Anak yang berkali-kali menerimanya bisa menganggapnya sebagai bahasa gaul yang “biasa aja” untuk diucapkan teman sebaya.
3. Teman Sebaya dan Tekanan Grup
Lingkungan pergaulan sangat berpengaruh. Anak sering menggunakan bahasa kasar ketika bersama teman-temannya, bukan karena mereka benar-benar paham artinya, tapi karena ingin kebagian status sosial di kelompoknya.
4. Kurangnya Pengawasan dan Pola Asuh yang Tepat
Penelitian juga menemukan bahwa kurangnya pengawasan dari orang tua dan gaya pola asuh yang kurang disiplin bisa memicu perilaku bicara kasar karena tidak ada struktur yang membimbing anak untuk memakai bahasa yang sopan.
5. Kurangnya Pemahaman Tentang Bahasa yang Tepat
Selain itu, anak cenderung belum memahami sepenuhnya tentang etika berbahasa — mana yang pantas diucapkan dan mana yang tidak, terutama bila mereka belum diberikan batasan yang jelas sejak dini.
Dampak Bahasa Kasar dalam Pergaulan Anak
Bahasa kasar pada anak tidak selalu hanya lucu atau iseng, ada dampak nyata yang perlu kita sadari:
- Membentuk norma komunikasi negatif yang terbawa sampai dewasa.
- Anak bisa dikucilkan atau sulit diterima di lingkungan lain karena gaya bicaranya yang kasar.
- Perkembangan sosial dan akhlak bisa terpengaruh jika terus-menerus terpapar tanpa bimbingan.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua dan Sobat Pengajar?
1. Modelkan Bahasa yang Baik
Anak akan meniru apa yang sering mereka dengar. Kalau rumah dan sekolah penuh dengan bahasa sopan, mereka lebih cenderung meniru itu juga.
2. Kurangi Paparan Konten Negatif
Orang tua perlu aktif memeriksa apa yang ditonton anak, terutama di media sosial dan game online, karena di sanalah banyak kata-kata kasar dipicu.
3. Ajarkan Alternatif Ekspresi Emosi
Ajarkan anak cara lain untuk menyampaikan marah atau frustasi tanpa harus memakai kata kasar. Misalnya, bilang “aku kesal karena…” itu jauh lebih baik.
4. Komunikasi Terbuka
Bicarakan dengan anak tentang artinya kata-kata tertentu dan juga bagaimana bahasa bisa memengaruhi orang lain, bukan sekadar melarang, tapi memberi pemahaman.
Fenomena anak memakai bahasa kasar dalam pergaulan memang bikin kita garuk kepala, tapi ini bukan hal yang mustahil diperbaiki. Dengan kesadaran orang tua, pendidik, dan lingkungan yang positif, bocil yang dulu sering bilang hal-hal kasar bisa belajar berkomunikasi dengan lebih santun dan bijak.
Semua perubahan besar dimulai dari langkah kecil, yuk ajak anak kita ngobrol dengan kata yang lebih baik hari ini!

